#SatuHATIBEMFMIPA

Selasa, 20 Agustus 2013

Mahasiswa itu...

Posted by BEM FMIPA UNJ On 15.49


Oleh: Ratna Maryam

HIDUP MAHASISWA !
HIDUP RAKYAT INDONESIA !

Kedua pekikan tersebut akan banyak teman-teman temui dalam beberapa hari ke depan maupun dalam kehidupan kampus nantinya. Pekikan yang mampu menggetarkan hati setiap yang mendengarnya. Pekikan yang pada tahun 1998 mampu menyatukan seluruh mahasiswa Indonesia dalam suatu gerakan besar yang kita kenal bersama sebagai sejarah pergerakan pemuda terbesar di Indonesia.

Kemudian akan muncul pertanyaan dalam benak teman-teman mengapa hanya mahasiswa yang hidup dan apalah yang terjadi pada hidup rakyat Indonesia memangnya?

Karena pemuda selalu punya andil dalam setiap peristiwa bersejarah bangsa ini. Tokoh – tokoh pejuang muda seperti Pangeran Diponegoro, Pattimura, Imam Bonjol, Sisimangaraja, dan lainnya yang melancarkan berbagai pemberontakan terhadap kaum imperialis. Tahun 1905, H. Samanhudi dan H. O. S. Cokroaminoto yang kala itu masih muda mendirikan Sarekat Dagang Islam yang merupakan gerakan berskala nasional pertama. Kemudian Boedi Oetomo yang didirikan oleh Dr. Soetomo dan para mahasiswa STOVIA pada 1908. Para mahasiswa Indonesia di Belanda turut mendirikan Perhimpunan Indonesia dengan ciri khas Intelektual. Kemudian pada 1923, Rahmah El Yunusiyyah yang saat itu berusia 23 tahun mendirikan Perguruan Diniyyah Putri di Padang Panjang, merupakan bentuk pergerakan melalui pendidikan. Melalui Sumpah Pemuda pada 1928, pemuda seluruh Indonesia menyatukan suara menuju kemerdekaan bumi pertiwi. Proklamasi kemerdekaan yang tanpa desakan kaum muda maka mungkin saja kemerdekaan bangsa ini hanya sebuah “hadiah” pemberian Jepang. Gerakan mahasiswa 1965 yang merobohkan rezim orde lama. Gerakan mahasiswa 1974 mempersoalkan dampak penjajahan halus dari modal asing dan hutang. Gerakan mahasiswa 1978, menolak pemberlakuan NKK/BKK. Keluarnya NKK/BKK berarti pembatasan organisasi kemahasiswaan karena berada di bawah pengawasan Badan Koordinasi Kampus yang merupakan perpanjangan tangan pemerintah. Bentuk kekhawatiran berlebih penguasa akan kekuatan mahasiswa sebagai ancaman. Gerakan mahasiswa 1998, krisis moneter tak terelakkan akibat keadzliman ekonomi yang dilakukan Orde Baru. Mahasiswa turun ke jalan menolak KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Rakyat yang tak mampu meletupkan jeritan hati berada di belakang gerakan mahasiswa, rezim yang bertahan 32 tahun berkuasa tersebut akhirnya turun. Gerakan mahasiswa era reformasi, mahasiswa senantiasa menjadi garda terdepan dalam menyikapi kebijakan pemerintah yang merugikan rakyat.

Berbanggalah kalian sebagai mahasiwa ! Hanya 1,6% dari jumlah penduduk Indonesia yang berkesempatan mencicipi nikmatnya bangku perguruan tinggi. Saya tidak akan berdefinisi mengenai makna mahasiswa. Secara bahasa, kata mahasiswa apabila dibawa menyebrang samudera hanya sebatas student. Kata yang tidak berbeda untuk menunjukkan identitas sebagai pelajar. Berbeda halnya dengan Indonesia yang membedakan antara siswa dan mahasiswa. Terdapat doa dari seluruh rakyat Indonesia pada imbuhan maha, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi pelajar namun sebgai penyambung lidah rakyat.Sebagai kalangan yang siap pasang badan dan pikiran membela hak-hak kemanusiaan. Ditambah lagi mahasiswa sebagai kaum intelektual memiliki bargaining position (posisi tawar) yang kuat di hadapan pemerintah. Sesuai tiga fungsi mahasiswa : agent of change, social control, dan iron stock.

Sebesar 20% APBN dianggarkan untuk pendidikan Indonesia. Sederhananya, jika kita membayar 4 juta maka rakyat membayar 1 juta lebihnya biaya kuliah kita.

“Maka Nikmat Tuhanmu Yang Manakah Yang Kamu Dustakan.”

Kamudian, apalah yang terjadi pada hidup rakyat Indonesia sehingga kita memekikkan "Hidup Rakyat Indonesia"? Tidak ada paksaan untuk memekikkan "Hidup Rakyat Indonesia". Namun ada kewajiban untuk memastikan rakyat Indonesia tidak mati kelaparan dan tidak terbodohi kebijakan. Setelah kemerdekaan bukan berarti kita terlepas dari segala bentuk penindasan. Penindasan kini secara halus dan dilakukan oleh bangsa sendiri. Oleh kaum yang melibatkan diri dalam kemewahan yang harus dibayar oleh rakyat. Mereka secara terbuka berselingkuh dengan asing mengkhianati rakyat melalui kebijakan yang merugikan dan penuh kepentingan.

Mahasiswa yang masih murni jiwanya tidak akan sampai hati melihat kepincangan dan kebobrokan dalam masyarakat kita. Mahasiswa berada dalam lingkungan akademis yang kuat serta dengan budaya ilmiah harusnya mampu berkontribusi nyata dalam perbaikan kehidupan rakyat Indonesia.

Bentuk kontribusi bermacam-macam. Pencerdasan mengenai pentingnya pendidikan, kesehatan, kebersihan, atau memberikan pelayanan gratis terkait hal tersebut dan pastikan bahwa kita memberikan kail bukan ikan. Terpenting yang harus ada dalam tiap hati mahasiswa adalah semangat kerakyatan. Kita sedang membangun masyarakat yang madani, membangun negara percontohan, perwujudan cita-cita kemerdekaan. Kemerdekaan yang hakiki memang butuh perjuangan, tidak secepat membalikkan telapak tangan. 

Itulah mahasiswa, bukan sekedar belajar, hang-out, cinta, seperti yang disuguhkan media, bukan sekedar status sosial belaka, mahasiswa itu .. jauh dari itu.

1 komentar :