#SatuHATIBEMFMIPA

Minggu, 20 Oktober 2013

Tolak SARAn mereka

Posted by BEM FMIPA UNJ On 10.39
Pada tahun 70an, Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof.Hamka pernah protes kepada pemerintah. Saat itu Pangkop Kamtibnya Laksamana Sudomo.Beliau termasuk orang yang paling berkuasa dan ditakuti di Indonesia. Beliau belum masuk Islam saat itu. Alhamdulillah setelah pensiun beliau masuk Islam. Buya Hamka protes kepada beliau karena di Jawa Timur ada buku pelajaran pendidikan agama Islam yang memuat surat Al-Ikhlas. Tapi anehnya, pejabat pendidikan setempat menyuruh tarik dan melarang beredar buku itu karena isinya menyinggung perasaan umat agama lain.  

Memang agama selain Islam, tuhannya ada yang 3, sedangkan dalam ayat pertama surat Al-Ikhlas dijelaskan Allah itu Mahaesa, Allah hanya satu. Kemudian agama lain ada yang tuhannya bapak dan ibu,sedangkan dalam ayat ke-3 surat Al-Ikhlas, Allah tidak beranak dan diperanakkan. Tapi bukan berarti Islam menghina atau merendahkan atau tidak toleransi kepada agama lain, melainkan Islam meyakini ajarannya,sebagaimana agama lain meyakini agamanya. Bila agama lain meyakini tuhannya ada 3 dan ada tuhan Ibu, tuhan bapak, ya silakan. Islam sangat menghargai keyakinan tersebut. Saya khawatir suasana tahun 70an itu ada lagi sekarang. Nanti umat Islam jadi takut dan tidak percaya diri berbicara tentang pedoman hidupnya yaitu Alquran karena alasan yang keliru yaitu menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, Antar golongan). 

Istilah SARA sebenarnya tidak adil dalam kehidupan beragama. Karena suku,agama,ras,dan golongan berbeda statusnya.

Dalam pandangan Islam, suku dan ras, orang tidak bisa memilih. Dia lahir sebagai suku Jawa, suka tidak suka, mau tidak mau, walaupun tidak medok dan tidak bisa bahasa Jawa sampai mati, dia tetap suku Jawa. Atau dia lahir sebagai ras Afrika,walaupun kulitnya dioperasi plastik seratus kali, dia tetap ras Afrika. Dalam pidato Rasulullah ketika haji wada, masalah suku dan ras sudah selesai dalam Islam. Dulu orang Arab merasa bangga dengan Arabnya, Rasulullah bilang tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang Ajam. Tidak ada kelebihan orang putih di atas orang hitam. Faktanya, seorang budak hina dan berkulit hitam bernama Bilal, setelah masuk Islam, Bilal menduduki posisi yang mulia. Jadi sejak zaman Rasulullah,masalah suku dan ras sudah selesai.  

Tapi sekarang-sekarang ini baru kita mendengar ungkapan bahwa sudah saatnya manusia tidak dibeda-bedakan atas dasar suku, agama, ras, golongan, gender, jabatan, dan lain sebagainya. Kata mereka semua manusia sama, semua manusia sederajat. Sebenarnya semua sistem di dunia membeda-bedakan manusia satu dengan yang lain. Hanya dasar diskriminasinya yang berbeda. Contoh,ada bayi yang lahir di Kalimantan (perbatasan antara Indonesia dan Malaysia),ada juga bayi lainnya yang lahir di Malaysia. Bayi yang lahir di Kalimantan tidak mendapat hak yang sama dengan bayi yang lahir di Malaysia karena hanya beda kewarganegaraan.Contoh lainnya, karena presiden itu pejabat,ia dihormati.Ketika mobil presiden lewat di jalan raya, kita disuruh minggir. Jadi tidak ada manusia yang semuanya diperlakukan sama.

Islam memandang manusia itu sama di hadapan Allah, manusia itu makhluk Allah. Tapi derajat manusia satu dengan yang lain berbeda di hadapan Allah. Islam membeda-bedakan derajat manusia bukan atas dasar suku,ras,dan jabatan, tapi atas dasar iman dan taqwa. Allah befirman yang paling mulia diantara kamu adalah yang bertaqwa. Orang mu’min berbeda dengan orang kafir. Orang ‘alim tidak sama dengan orang bodoh. Makanya Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. 

Sekarang mari kita renungkan, mana yang lebih masuk akal, sistem Islam yang membeda-bedakan manusia atas dasar iman dan taqwa atau sistem modern saat ini yang membeda-bedakan manusia atas dasar SARA? 

Oleh: Andi Ryansyah (Mahasiswa UNJ)
Categories:

0 comments :

Posting Komentar